Bagiakan Postingan :

Oleh
Hans S. M. Salakory, SE, MSi
Febby S. Matulessy, SE, MSi

Pendahuluan
Indonesia adalah negara dengan potensi sumber daya manusia yang besar, hal itu menjadi potensi pasar domestik yang besar, memiliki sumber daya alam yang melimpah. Semua hal tersebut menyebabkan para ekonom memperediksi Indonesia berpotensi menjadi negara nomor 4 di dunia dengan ekonomi terkuat pada tahun 2045. Hal ini diperkuat oleh pendapat sutawi yang menyatakan bahwa indonesia pada tahun 2030 akan masuk dalam 5 besar negara dengan ekonomi terkuat didunia, bahkan akan mencapai 4 besar di tahun 2030-2050. Hal ini didukung oleh beberapa faktor, antara lain: Jumlah penduduk yang besar dan produktif. Penduduk Indonesia di tahun 2045 menurut perkiraan akan mencapai 318,96 juta jiwa. Jumlah penduduk yang besar dan produktif ini merupakan modal penting untuk pertumbuhan ekonomi dimana jumlah penduduk usia produktif yang berada pada rentan usia 15-64 tahun adalah sebesar 65 persen darinya atau sekitar 207,99 jiwa dan sisanya sebesar 35 persen atau 110,97 juta jiwa adalah usia penduduk yang tidak produktif. Kondisi ini yang disebut dengan momentum bonus demodrafi yang ditandai dengan rendahnya penduduk usia tidak produktif dibandingnkan dengan penduduk usia produktif, demikian disampaikan Sutawi Guru BesarUniversitas Muhammadiyah Malang (Supriyanto, 2023).

Dalam pidatonya presiden Jokowi menakankan tentang pentingnya moment Indonesia Emas 2045 yang hanya bisa diacapai dengan memaksumalkan dua manfaat penting yang slah satunya adalah momentum bonus demografi yang di tahun 2030 akan mencapai puncaknya. Disampaikan bahwa usia produktif pada saat itu mencapai 68 persen dari penduduk Indnesia. Hal ini kemudian yang menjadi kunci peningkatan produktifitas Indonesia (Humas Sekretaris Kabinet, 2023).

Disaat bonus demografi digadang-gadang menjadi peluang dan momentum baik bagi perekoinomian, Indonesia diperhadapkan dengan kendala besar yakni kekurangan gizi kronis dalam jangka panjang pada balita yang menyebabkan gagal tumbuh pada bayi atau stunting. Penurunan produktivitas dan penurunan daya saing masyarakat adalah konsekuensi yang mungkin dialami bayi stunting di masa depan. Oleh WHO Dikatakan bahwa jika tinggi anak usia 0-59 bulan kurang dari mines 2 standart deviasi berdasarkan standart median yang telah ditentukan maka bayi bersangkutan mengalami stunting (Goudet et al., 2015).

Stunting sebagaimana di sampaikan BKKBN (2021) adalah kondisi dimana pada 1000 hari pertama bayi mengalami kekurangan gizi, keadaan ini berlangsung lama bahkan hingga menyebabkan tumbuh kembang anak dan perkembangan otaknya menjadi terhambat. Dengan kondisi kekurangan gizi maka bayi yang mengalami stunting bila dibandingkan dengan anak seusinya maka dia tumbuh lebih lambat dan kerdil. Ditambahkan pula terdapat 1,2 juta bayi mengalami stunting setiap tahunnya dari 5 juta kelahiran bayi yang berarti sunting merupakan produk dari kehamilan. 23 persen bayi terlahir dengan prevelensi stunting yang berarti 23 persen bayi terlahir dalam kondisi yang tidak sesuai standart. Selain itu ada 4,6 persen dari bayi yang lahir normal dikemudian hari mengalami stunting. Data lain membuktikan bahwa bayi yang lahir dengan kondisi kurang gizi dan menyebabkan stunting sebanyak 11,7 persen yang diukur berdasarkan berat badan kurang dari 2,5 Kg dan panjang tubuh kurang dari 48 cm (BKKB, 2022).

Angka stunting Indonesia ditahun 2022 adalah sebesar 21,6 persen berdasarkan data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementrian Kesehatan, hal ini menunjukan bahwa telah terjadi penurunan angka stunting sebesar 2,8 dari tahun 2021. Angka ini masih lebih dari ambang batas yang ditetapkan WHO yang seharusnya kurang dari 20 persen. Menurut urutan WHO Indionesia ditempatkan sebagai negara dengan prevelensi stunting tertinggi ke empat didunia dan nomor dua di asia tenggara, hal ini kemudian memaksa pemerintah untuk menargetkan penurunan prevelensi stunting sebagai program super proritas hingga mencapai 14 persen di tahun 2024 (Annur, 2023).

Akibat yang ditimbulakan pada awal kehidupan anak ketika mengalami stunting adalah terjadi kerusakan secara permanen terhadap perkembangan kognitif sekanjutnya akan mengganggu motorik dan perkembangan intelektual. Pada tahapan berikut akan berdampak buruk pada pendidikan, selanjutnya pendidikan yang buruk akan berdampak pada rendahnya produktifitas diusia dewasa, dengan yang produktifitas rendah maka pendapatan yang diterima juga rendah. Secara bersama-sama ketika produktifitas rendah akan berpengaruh pada rendahnya hasil produksi dan pendapatan yang rendah berdampak pada Purchasing power keduanya akan berkontribusi terhadap melembatnya pertumbuhan ekonomi.

Hubungan Prevelensi Stunting Terheadap Kemampuan Kogniktif Anak
Mengutib penelitian Nature di Kalimantan Barat yang mengkaji hubungan antara riwayat gizi buruk dan kehadiran stunting dengan kecerdasan anak Primasasti (Primasasti, 2023) mengatakan bahwa anak dengan IQ terendah adalah mereka yang mengalami stunting parah bila bandingkan dengan anak yang mengalami prevelensi stunting ringan atau sedang. Ditambahkan pula bahwa anak dengan prevelensi stunting memiliki otak dengan ukaran lebih kecil bila dibandingkan dengan anak sesuainya yang tidak mengalami stunting. Hal ini merupakan dampak dari kurangnya proses pembentukan selubung syaraf yang penting untuk pengoptimalan fungsi otak serta penurunan produksi sel pendukung otak yang bertanggung jawab memproduksikan mielin yang merupakan selubung syaraf yang penting untuk pengoptimalan fungsi. Hal selanjutnya yang terjadi sebagai akibat mal nutrisi tersebut adalah perkembangan motorik halus serta bahasanya cenderung mengalami keterlambatan. Mereka akan mengalami defisit kognitif dan perilaku. Disampaikan oleh (Irawan, 2020) bahwa Jika anak kekurangan nutrisi, hal itu akan berdampak negatif pada perkembangan neural mereka, akibatnya akan terjadi penurunan IQ dan proses belajar.

Oleh info fakultas kedokteran Universitas Indonesia (Info Sehat, 2021) bahwa anak stunting adalah mereka yang mengalami kekurangan gizi pada masa ini dan membuat asupan energi yang dibutuhkan untuk perkembangan otak tidak cukup sehingga berpengaruh pada kecerdasan penderitanya. Anak stunting adalah anak yang mengalami mal nutrisi dan sehingga terjadi kekurangan energi yang diperlukan untuk pertumbuhan otak, yang berdampak pada kecerdasannya. Disampaikan pula bahwa anak yang berusia kurang dari satu tahun 25 persennya mengalami mal nutrisi dan beresiko memiliki IQ kurang dari 70, 40 persen beresiko memiliki IQ 71-90 sehingga akan mengganggu kemampuannya secara akademis. Oleh Dwi dkk disebutkan bahwa antara stunting dengan IQ memiliki korelasi yang positif yang ditunjukan lewat rendahnya skor IQ anak dengan stunting dibandingkan anak yang tidak mengalami stunting.(Dwi et al., n.d.)

Rendahnya IQ serta defisit kognitif dan perilaku tidak bisa dianggap biasa saja oleh pemerintah, hal ini menjadi sangat penting dan urgen untuk segera diselesaiakan kalau memang momentum bonus demografi serta Indonesia emas di tahun 2045 ingin digapai, dengan kondisi tidak cerdas otak sangat idak mungkin hal tersebut bisa digapai.

Hubungan Stunting dengan Pertumbuhan Ekonomi
Seorang anak perkembangan kognitifnya akan mengalami kerusakan permanen ketika pada awal kehidupan dia mengalami stunting, diikuti oleh kurang optimalnya perkembangan motorik dan inteltualnya. Hal ini akan memberikan dampak pada pendidikan di usia dewasa, pendapatan, produktivitas, pada akhirnya akan berdampak pada lambannya pertumbuhan ekonomi (Prosiding Widyakarya Nasional Pangan Dan Gizi (WNPG) XI?: Tema, Percepatan Penurunan Stunting Melalui Revitalisasi Ketahanan Pangan Dan Gizi Dalam Rangka Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan?: Hotel Bidakara, Jakarta, 3-4 Juli 2018, n.d.). Akibat yang akan ditimbulkan dari stunting adalah tingkat kecerdasan yang tidak maksimal, dan akan berdampak pada terhambatnya melambannya pertumbuhan ekonomi, semakin menikatnya angka kemiskinan, serta terjadinya disparitas pembanguanan dan pendapatan antar wilayah dan antar penduduk. (Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia, 2017)

Anak yang mengalami stunting akan berpengaruh besar terhadap perilaku serta rendahnya kecerdasan dan kognitifnya. Pada tahun 2006 World Bank menyebutkan bahwa akan terjadi penurunan produktifitas sebanyak 1,4 persen disetiap perubahan tunggi badan sebesar satu persen.(Ali Nasrun & Rahmania, 2018)

de Onis et al.(2010) sebagaimana dikutib oleh Renyoet dkk, bahwa World Bank mengatakan sebagai akibat kekurangan gizi maka akan terjadi kerugian negara pada Produk Domestik Bruto (PDB) sebanyak 2,5 persen. Kusumawardhani dan Martianto (2011) dalam penelitiannya menemukan bahwa ketika Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) perkapita semakin meningkat akan memberikan dampak peneurunan pada prevelensi stunting, hal ini ditunjukan dengan kemiringan garis regresi yang ber slope negatif antara PDRB Perkapita dengan prevelensi stunting. Semakin tinggi PDRB perkapita menunjukan semakin besar potensi ekonomi (Renyoet et al., n.d.).

Hasil penelitian dari (Aries & Martianto 2006) menunjukan bahwa Kekurangan Energi Protein (KEP) berdampak pada pertumbuhan balita dan mencakup 0,27 hingga 1,21 persen dari PDB Nasional, angka diperkiirakan setara dengan 4,24 triliun rupiah sampai 19,08 triliun rupiah per tahun. Ini merupakan potensi ekonomi yang signifikan yang hilang secara nasional (Aries & Martianto, 2006).

Stunting mupakan serius karena berhubungan erat dengan peningkatan resiko sakit dan kematian, obesitas, penyakit tidak menular, orang dewasa yang pendek, perkembangan kognitif yang buruk, serta produktivitas dan pendapatan yang rendah yang akan semaki memperburuk perekonomian suatu negara (Khotimah, n.d.).

Menurut Hamam Hadi (2018) yang adalah Konsultan Kesehatan dan Gizi Nasional bahwa setiap tahunnya kerugian yang akan diderita oleh negara sebagai akibat stunting adalah 2-3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Disampaikan bahwa jika PDB negara kita Rp 13.000 triliun, maka stunting mengakibatkan potensi kerugian negara pertahunnya diperkirakan mencapai Rp 300 triliun. Ia menjelaskan ada korelasi positif antara prevelensi stunting dengan perekonomian karena didahului oleh beberapa peristiwa lainnya yakni meningkatnya anak yang sakit diikuti dengan meningktnya angka kematian anak. Selain itu itu akan berdampak pada semakin menurunnya potensi akademik, dan pada gilirannya dimasa dewasa akan menurunkan produktifitas.(Humas, 2023)

Gagasan Langkah Solutif
1.Meningkatkan produktivitas tenaga kerja
Stunting dapat menyebabkan penurunan produktivitas tenaga kerja, sehingga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Untuk mengatasi dampak ini, diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja, seperti:
a.Meningkatkan akses terhadap pendidikan berkualitas, terutama bagi anak-anak stunting. Pendidikan berkualitas dapat membantu anak-anak stunting untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya dan meningkatkan produktivitasnya di masa depan. b.Menciptakan lapangan kerja yang layak dan ramah anak. Lapangan kerja yang layak dan ramah anak dapat membantu anak-anak stunting untuk mengembangkan potensinya dan berkontribusi pada perekonomian.

2.Mengurangi beban kesehatan
Stunting menyebabkan peningkatan beban kesehatan, anak stunting memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit kronis, seperti diabetes, jantung, dan stroke, di kemudian hari. Penyakit-penyakit ini dapat membebani biaya kesehatan dan mengurangi produktivitas tenaga kerja. Untuk mengatasi dampak ini, diperlukan upaya-upaya untuk mengurangi beban kesehatan, seperti:
a.Meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, terutama bagi anak-anak stunting. Pelayanan kesehatan yang berkualitas dapat membantu anak-anak stunting untuk mencegah dan mengelola penyakit kronis. b.Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan bagi anak-anak stunting.
3.Melakukan intervensi gizi spesifik dan sensitif yang terintegrasi dan berkelanjutan.

 

References :

  • Ali Nasrun, M., & Rahmania. (2018). Hubungan Indikator Keberhasilan Pembangunan Ekonomi Dengan Stunting Di Indonesia.
  • Annur, C. M. (2023, February 2). Daftar Prevalensi Balita Stunting di Indonesia pada 2022, Provinsi Mana Teratas? Https://Databoks.Katadata.Co.Id/Datapublish/2023/02/02/Daftar-Prevalensi-Balita-Stunting-Di-Indonesia-Pada-2022-Provinsi-Mana-Teratas.
  • Aries, M., & Martianto, D. (2006). Estimasi Kerugian Ekonomi Akibat Status Gizi Buruk Dan Biaya Penanggulangannya Pada Balita Di Berbagai Provinsi Di Indonesia. Jurnal Gizi Dan Pangan, 1(2), 26–33.
  • BKKB. (2022, September 6). 1000 Hari Pertama Kehidupan Adalah Masa Kritis Terjadinya Stunting. Https://Www.Bkkbn.Go.Id/Berita-1000-Hari-Pertama-Kehidupan-Adalah-Masa-Kritis-Terjadinya-Stunting.
  • Dwi, A., Yadika, N., Berawi, K. N., & Nasution, S. H. (n.d.). Pengaruh Stunting terhadap Perkembangan Kognitif dan Prestasi Belajar.
  • Goudet, S. M., Griffiths, P. L., Bogin, B. A., & Madise, N. J. (2015). Nutritional interventions for preventing stunting in children (0 to 5 years) living in urban slums. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2015(5). https://doi.org/10.1002/14651858.CD011695
  • Humas. (2023, October 6). Badan Kerdil Berpotensi Rugikan Ekonomi Hingga 390 Triliun per Tahun. Jateng Prov.Co.Id Https://Jatengprov.Go.Id/Beritadaerah/Badan-Kerdil-Berpotensi-Rugikan-Ekonomi-Hingga-390-Triliun-per-Tahun/#:~:Text=PURBALINGGA%20%E2%80%93%20Stunting%20(Kerdil)%20atau,Bruto%20(PDB)%20per%20tahun.
  • Humas Sekretaris Kabinet. (2023, August 16). Pidato Presiden RI pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI dalam rangka HUT Ke-78 Proklamasi Kemerdekaan RI. Humas Sekretaris Kabinet.
  • Info Sehat, F. (2021, August 27). Stunting, Apa Hubungannya Dengan Kecerdasan? Info Sehat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Https://Fk.Ui.Ac.Id/Infosehat/2249-2/.
  • Irawan, R. (2020, September 20). Stunting Mempengaruhi Stunting Mempengaruhi Kecerdasan Otak. Https://News.Unair.Ac.Id/2020/09/26/Stunting-Mempengaruhi-Kecerdasan-Otak/?Lang=id.
  • Khotimah, K. (n.d.). Dampak Stunting dalam Perekonomian di Indonesia. Jurnal Inovasi Sektor Publik, 2(1), 2022.
  • Primasasti, A. (2023, June 17). Hubungan Kecerdasan Anak dengan Stunting. Pemerintah Kota Surakarta. https://surakarta.go.id/?p=29425#:~:text=Dampak%20stunting%20pada%20perkembangan%20otak,performa%20akademik%20yang%20lebih%20buruk.
    Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XI?: tema, percepatan penurunan stunting melalui revitalisasi ketahanan pangan dan gizi dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan?: Hotel Bidakara, Jakarta, 3-4 Juli 2018. (n.d.).
  • Renyoet, B. S., Martianto, D., Sukandar, D., Masyarakat, D. G., & Manusia, F. E. (n.d.). Potensi Kerugian Ekonomi Karena Stunting Pada Balita Di Indonesia Tahun 2013 (Economic losses potential due to stunting in toddlers in Indonesia year 2013). http://journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan
  • Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia. (2017). 100 kabupaten/kota prioritas untuk intervensi anak kerdil (stunting).
  • Supriyanto, H. (2023, January 24). Dampak Stunting Terhadap Kecerdasan dan Ekonomi. Https://Www.Harianbhirawa.Co.Id/Dampak-Stunting-Terhadap-Kecerdasan-Dan-Ekonomi.
Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *