AMBON,JemaatGPMSyaloom,- Musyawarah Pimpinan Paripurna Cabang (MPPC) XXIII Syaloom Daerah Kota Ambon (Dakota) harus menjadi momen untuk menggumuli masalah kekinian yang terjadi di kota dan gereja (jemaat) khususnya pemuda.
Dimana sebagai organisasi kemasyarakatan yang jadi bagian integral dari gereja peran AMGPM sangat dituntut menjadi solutif terhadap permasalahan itu sebagai wujud garam dan terang dunia.
Hal tersebut ditegaskan Ketua AMGPM Dakota lewat Ketua II, Niko Timisela saat membuka MPPC XXIII AMGPM Syaloom di Gedung Gereja Pengharapan, Minggu (16/1/22).
Timisela katakan, forum MPPC bukan untuk saling hakimi tapi wadah mengembangkan pelayanan dan pengkaderan organisasi pemuda gereja melalui evaluasi pelayanan secara baik.
Diharapkan nantinya, sinergitas dan koordinatif dengan gereja penting terus dilakukan guna menumbuhkembangkan pelayanan dan kemajuan organisasi dalam kesadaran AMGPM sebagai anak kandung gereja. Tak lupa pengembangan spiritualitas harus terus digalakkan dan jadi perhatian serius, tidak meniadakan spiritualitas sebagai kekuatan iman pemuda.
“Menjawab masalah kemiskinan dan pengangguran di kalangan pemuda, maka AMGPM perlu mendorong lahirnya wirausaha baru dari kader serta upaya membangun networking untuk implementasinya.
Selain itu, kesadaran politik dan demokrasi yang baik harus ditumbuhkan terus bagi pemuda dalam bentuk politik etis dan pola berdemokrasi seperti Kristus apalagi jelang Pemilu 2019,” bebernya.
AMGPM juga lanjutnya, harus jadi sosial control bagi pemerintah agar selalu berada di jalur tepat dalam menjawab kebutuhan dan kepentingan umat.
Karenanya, MPPC sebagai forum strategis organisasi bisa menjadi solutif bagi masalah kepemudaan seperti dekadensi moral, miras, judi, narkoba, sex bebas dan penyakit sosial lain. Semua itu juga butuh sinergitas bersama dengan PHMJ dan berbagai stakeholder secara kontinu agar setidaknya dapat meminimalisir.
Sementara Ketua PHMJ Syaloom yang diwakili Wakil Ketua Penatua Pelinus Latuheru dalam sambutan katakan, MPPC sebagai momen organisasi wajib tiap tahun untuk evaluasi program dan belanja, rumuskan program baru serta menetapkan keputusan organisasi lainnya.
“Cabang harus bersinergi, berjalan bersama ranting karena pusat pelayanan disitu. Turut aktif support pengembangan pelayanan dan spiritualitas jemaat. MPPC ini harus pakai untuk evaluasi positif dan memberi kritik konstruktif bagi pengembangan AMGPM khususnya di Cabang Syaloom,” harapnya.
Penting pula sambungnya, AMGPM harus menjiwai visi misi jemaat sesuai Renstra dan peka pada masalah-masalah jemaat dan jadi garam dan terang dunia bukan saja simbolisasi.
“AMGPM juga harus menyokong pergumulan jemaat, hindari ego sektoral. Sebab seluruh aktivitas AMGPM secara tidak sadar bagian dari menjawab panggilan Kristus. Era digital saat ini sangat menantang. Penguasaan IT oleh pemuda kuncinya, jika tidak maka pasti akan tertinggal,” pungkasnya.
Sebelumnya, Ketua AMGPM Cabang Syaloom, Bobby Diaz mengungkapkan, MPPC adalah forum bergumul bagi pemuda di jemaat Syaloom dalam mengasah ide, gagasan membangun AMGPM melalui peningkatan pelayanan dan pengembangan organisasi.
“Sejatinya, MPPC hanya untuk mengevaluasi realisasi anggaran dan program tahun sebelumnya, menetapkan anggaran dan program kedepan serta menetapkan keputusan strategis lainnya,” kuncinya. (Tim MM)
