AMBON,Jemaat Syaloom,- Meskipun ditengah hujan lebat yang mengguyur Kota Ambon, warga Jemaat GPM Syaloom tetap mensyukuri kasih Tuhan atas pertambahan setahun usia bagi Gedung Gereja Syaloom ke-12, Senin (11/7) malam.
Kebaktian syukur didesain dalam suasana etnik Maluku mulai dari liturgi, tata ruangan Gedung Gereja hingga busana pengisi liturgi dan Jemaat.

Tak ketinggalan ada tampilan perdana grup Ukulele SMTPI Syaloom, hiasi kebaktian HUT yang dipimpin Ketua Majelis Jemaat, Pendeta L.F Samual. Juga spontanitas Majelis Jemaat dalam berbagai dialek di Maluku.
Pendeta Samual dalam refleksi HUT ingatkan, bahwa menjadi Gereja, hidup Jemaat adalah paling penting. Bukan soal rumah Gereja yang dibangun tidak penting, tapi alangkah baiknya jika hidup Jemaat jalan manis-manis.

“Kalau katong bangun rumah Gereja yang bagus, mar katong punya hidup seng bagus, percuma. Jadi tanda katong harus biking bae-bae di hidup, antar Jemaat. Mari berefeksi apa katong hidup su jadi Gereja yang batul kaseng,” ingatnya dalam dialek Ambon.
Lebih lanjut katanya, rumah Gereja Syaloom ini harus dijadikan tempat bangun persekutuan yang tulus, bersih seperti Jemaat mula-mula. Bukan hanya tiap Minggu saja ikut kebaktian, tapi mesti jadi tempat belajar hidup “laeng sayang laeng, laeng tongka laeng, laeng sombayang par laeng, laeng bantu laeng”.
“Jemaat tidak bisa tumbuh cuma tagal Pandita, Penatua, Syamas dan pelayan laeng pung karja saja. Mar bisa tumbuh kalau samua orang pung karja, dari dolo sampe oras. Barapa banya riwayat firman, nyanyian diangkat dan hal lahir dari rumah Gareja biking Jemaat tumbuh,” pesannya.





Sementara, Pendeta Nn. M.D Huliselan mewakili PHMJ dalam sambutannya tegaskan, memuliakan Allah bukan saja dengan kidung pujian tapi juga dengan ucapan dan tindakan tiap hari. Itu yang sangat penting.
“Menjaga kekhudusan Gedung Gereja ini bisa ditunjukkan dengan memeliharanya agar tetap bersih. Dengan begitu kebaktian pun akan nyaman. Sebab di Gedung Gereja ini mengalir banyak berkat. Maka harus rajin datang bawa hidup kita kepada Tuhan, sebaliknya jika malas, berkat mundur,” kunci Huliselan. (TIM MM)
